Pelatihan (Training)
merupakan suatu proses pendidikan jangka pendek yang mempergunakan prosedur
sistematis dam terorganisasi, pegawai non manajerial mempelajari pengetahuan
dan keterampilan teknis dalam tujuan yang terbatas.
Pengembangan
merupakan suatu proses pendidikan jangka panjang yang mempergunakan prosedur
sistematis dan terorganisasi, diterapkan kepada pegawai manajerial yang
mempelajari pengetahuan konseptual dan teoritis untuk mencapai tujuan yang
umum.
Dengan demikian,
istilah pelatihan ditujukan pada pegawai pelaksana untuk meningkatkan
pengetahuan dan keterampilan teknis, sedangkan pengembangan ditujukan pada
pegawai tingkat managerial untuk meningkatkan kemampuan konseptual, kemampuan
dalam pengambilan keputusan, dan memperluas human relation.
Tujuan pelatihan dan pengembangan
Tujuan Pelatihan dan Pengembangan, antara
lain:
Meningkatkan penghayatan jiwa dan ideologi.
Meningkatkan produktivitas kerja.
Meningkatkan kualitas kerja.
Meningkatkan ketetapan perencanaan sumber
daya manusia.
Meningkatkan sikap moral dan semangat kerja.
Meningkatkan rangsangan agar pegawai mampu
berprestasi secara maksimal.
Meningkatkan kesehatan dan keselamatan kerja.
Menghindarkan keusangan (obsolescence).
Meningkatkan perkembangan pribadi pegawai.
Komponen-komponen Pelatihan dan pengembangan
Komponen-komponen pelatihan dan pengembangan
adalah:
Tujuan dan sasaran pelatihan dan pengembangan
harus jelas dan dapat diukur.
Para pelatihan (trainers) harus ahlinya yang
berkualifikasi memadai (profesional).
Materi pelatihan dan pengembangan harus
disesuaikan dengan tujuan yang hendak dicapai.
Metode pelatihan dan pengembangan disesuaikan
dengan tingkat kemampuan pegawai yang menjadi peserta.
Pelatih (trainers) harus memenuhi persyaratan
yang ditentukan.
Prinsip-prinsip perencanaan pelatihan dan
pengembangan
Mc Gehee (1979) merumuskan prinsip-prinsip
perencanaan pelatihan dan pengembangan sebagai berikut:
Materi harus diberikan secara sistematis dan
berdasarkan tahapan-tahapan
Tahapan-tahapan tersebut harus disesuaikan
dengan tujuan yang hendak dicapai.
Penatar harus mampu memotivasi dan
menyebarkan respon yang berhubungan dengan serangkaian materi pelajaran.
Adanya penguat (reinforcement) guna
membangkitkan respon positif dari peserta.
Menggunakan konsep pembentukan (Shaping)
perilaku.
How to
Tahapan-tahapan penyusunan pelatihan dan
pengembangan adalah sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi kebutuhan pelatihan
Kebutuhan pelatihan dapat muncul karena
adanya tuntutan yang akan dihadapi di masa depan atau juga dari masalah yang
muncul saat ini karena ada yang tidak beres. Analisis terlebih dahulu masalah
pelatihan kemudian tentukan prioritas apakah masalah tersebut mendesak ataukah
penting. Ada tiga analisis kebutuhan pelatihan dan pengembangan, Yaitu:
2. Analisis Organisasi
Menganalisa tujuan organisasi, sumber daya
yang ada, dan lingkungan organisasi yang sesuai dengan kenyataan. Dalam
menganalisis organisasi perlu diperhatikan pertanyaan “ where is training and
development needed and where is it likely to be successful within an
organization?”. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mengadakan survei sikap
pegawai terhadap kepuasan kerja, persepsi pegawai, dan sikap pegawai dalam
administrasi. Disamping itu, analisis organisasi dapat menggunakan turnover ,
absensi, kartu pelatihan, daftar kemajuan pegawai, dan data perencanaan
pegawai.
3. Analisis pekerjaan dan tugas.
Analisis pekerjaan dan tugas merupakan dasar
untuk mengembangkan program job-training. Sebagaimana program pelatihan
analisis job, dimaksudkan untuk membantu pegawai meningkatkan pengetahuan,
skill, dan sikap terhadap suatu pekerjaan.
4. Analisis pegawai
Analisis pegawai difokuskan pada identifikasi
khusus kebutuhan pelatihan bagi pegawai yang bekerja pada job-nya. Kebutuhan
pelatihan pegawai dapat dianalisis secara individu maupun kelompok. Analisa
kebutuhan individu dari pelatihan dapat dilakukan dengan cara observasi oleh
supervisor, evaluasi keterampilan, kartu kontrol kualitas, dan tes keterampilan
pegawai. Analisa kebutuhan kelompok dapat dipresiksi dengan pertimbangan
informal dan observasi oleh supervisor maupun manager.
5. Menetapkan Tujuan dan Sasaran Pelatihan/
Pengembangan
Sasaran pelatihan adalah perilaku yang
diharapkan dari para peserta. Sasaran harus menspesifikasi kemampuan peserta
untuk melakukan pekerjaan tertentu, dengan tingkat kemampuan tertentu pada
kondisi tertentu. Timothy dkk (dalam Chomsin S. Widodo & Jasmadi, 2004)
menyatakan tujuan rancangan yang dibuat dipakai sebagai panduan dan acuan
kegiatan dalam menjelaskan tentang hal-hal yang hendak dicapai oleh sistem
tersebut. Tujuan ini dibagi dalam tiga bagian kawasan yaitu:
Kognitif, berorientasi pada penambahan
kemampuan peserta.
Afektif, berhubungan dengan sikap (attitude),
minat, sistem, nilai dan emosi.
Psikomotorik, berorientasi pada keterampilan
peserta sehingga terampil dalam suatu kegiatan tertentu.
Sasaran dapat digunakan untuk
mengidentifikasi outcomes dari sebuah proses pembelajaran yang ingin dilakukan
(mengidentifikasi kompetensi), memberikan arah bagi pengembangan materi atau
content pembelajaran (memberi batasan dan urutan materi yang sesuai dengan
outcomes yang ingin dicapai), dan untuk menentukan bagaimana kegiatan pelatihan
dapat berlangsung dengan efektif.
6. Menetapkan Kriteria keberhasilan dengan
alat ukurnya
Jika sebagaian besar trainee menunjukkan
adanya penguasaan, maka dapat disimpulkan proses pelatihan efektif. Untuk
mengetahui adanya penguasaan yang meningkat, sebelum pelatihan dilakukan ujian
tentang taraf penguasaan trainee (pre-test), dan dibandingkan dengan hasil
ujian yang diberikan setelah pelatihan diberikan, kemudian dihitung taraf
kontribusinya.
7. Memilih Metode Pelatihan/Pengembangan
Pada saat memilih rancangan metode dan media
yang digunakan harus diperhatikan keterampilan trainer dan sumber daya yang
perusahaan miliki. Berikut metode yang dapat digunakan dalam program ini:
1. Self Learning
Self learning merupakan pelatihan yang
menggunakan modul, video tape atau kaset, sehinga karyawan dapat mempelajarinya
sendiri.
2. On the Job Training
On The Job Training merupakan pelatihan
dimana para peserta latihan langsung bekerja di tempat untuk belajar dan meniru
suatu pekerjaan di bawah bimbingan seorang pengawas.
3. Lecture (ceramah atau kuliah)
Metode Lecture (ceramah atau kuliah)
merupakan suatu metode tradisonal karena hanya pelatih yang berperan aktif
sedangkan peserta pengembangan bersikap pasif.
4. Task Assignment
Metode Task Assigment adalah metode yang
dilakukan dengan cara meminta karyawan untuk melakukan tugas sesuai dengan
perintah dengan batas waktu tertentu.
5. Project Assignment
Project Assigment adalah metode metode
pelatihan dimana karyawan diminta untuk membuat suatu project yang dikerjakan secara berkelompok.
6. Job Rotation
Metode Job Rotation adalah metode yang
dilakukan dimana peserta pelatihan ditugaskan untuk berpindah dari satu bagian
ke bagian pekerjaan yang lain dalam satu perusahaan, dengan interval yang
terencana, sehingga diperoleh pengalaman kerja.
7. Coaching
Coaching adalah proses membimbing bawahan
dalam team, dan proses bagaimana pemimpin mengembangkan kesadaran diri
anggota/bawahan dengan melakukan tatap muka, untuk masalah kinerja berkaitan
keterampilan / kompetensi teknik, keterampilan managerial (soft skill).
8. Counseling
Proses membantu bawahan untuk urusan yang
terkait dengan pemahaman diri bawahan, penerimaan diri dan pertumbuhan emosi,
pengenalan karakter, masalah sikap, mental, kepribadian, attitude, masalah
keluarga, keuangan dll.
9. Confrence (Rapat)
Pada metode confrence (Rapat) Pelatih
memberikan suatu makalah tertentu dan peserta pengembangan ikut serta
berpastisipasi dalam memecahkan makalah tersebut. Mereka harus mengemukakan ide
dan sarannya untuk didiskusikan serta diterapkan kesimpulanya pada metode
konferensi pelatih dan yang dilatih sama-sama berperan aktif serta dilaksanakan
dengan komunikasi dua arah.
10. Seminar atau Workshop
Seminar atau workshop merupakan pelatihan
dimana para karyawan diminta untuk memberikan penilaian terhadap topik yang
diseminarkan oleh orang lain dan bertujuan untuk melatih kecakapan dalam
memberikan komentar.
11. Case Study & Case Analysis
Case study & Case Analysis adalah metode
pelatihan dimana karyawan diminta untuk menganalisa suatu masalah dan
memberikan solusi yang terbaik dari masalah tersebut.
12. Laboratory Traning
Laboratory Training merupakan pelatihan
dengan kelompok diskusi yang tak beraturan dan dimana masing-masing orang
mengungkapkan perasaannya terhadap orang lain, sehingga saling mengerti satu
sama lain.
13. Action Plan
Action plan merupakan metode pelatihan dimana
karyawan diminta mengembangkan sebuah
rencana tindakan yang didasarkan atas hasil temuan mereka.
14. Mengadakan percobaan (try out) dan
Revisi.
Setelah kebutuhan pelatihan, sasaran
pelatihan ditetapkan, kriteria keberhasilan dan alat ukurnya dikembangkan,
bahan untuk latihan dan metode latihan disusun dan ditetapkan maka langkah
berikutnya adalah melakukan uji coba paket penelitian. Uji coba rancangan
pelatihan dilakukan dengan menyajikan kepada beberapa orang yang bisa mewakili.
Melalui uji coba kita dapat mengetahui keterlaksanaan dan manfaat modul dalam
kegiatan pelatihan sebelum modul tersebut siap diproduksi atau digunakan secara
umum. Uji coba juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi kelemahan yang masih
ada, apakah sudah dirumuskan dengan jelas dan tepat, apakah bahannya telah
relevan dan metode pelatihannya sesuai serta dapat dilaksanakan oleh trainer,
mengetahui efisiensi waktu belajar pada tiap-tiap sesi, alur pelatihan,
kesesuaian pemahaman partisipan terhadap tujuan dari tiap-tiap sesi dan
penggunaannya, efektivitas modul dalam membantu peserta untuk mencapai
kompetensi yang harus dimiliki dan mengenai program pelatihan secara
keseluruhan dari partisipan.
15. Mengimplementasikan dan Mengevaluasi
Setelah memperbaiki kekurangan pada rancangan
pelatihan, maka rancangan tersebut dapat diterapkan kepada karyawan. Secara
garis besar, dalam penyelenggaraan pelatihan ada dua hal penting yang perlu
dilakukan oleh “Panitia Penyelenggara”, yaitu Tahap Persiapan dan Tahap
Pelaksanaan Pelatihan.
1. Tahap Persiapan Persiapan operasional ini antara lain meliputi:
Pemberitahuan/Undangan kepada peserta
Pemberitahuan/Undangan kepada
Fasilitator/Nara Sumber
Menetapkan tempat penyelenggaraan dan
fasilitas yang tersedia
Mempersiapkan Kelengkapan Bahan Pelatihan
Mempersiapkan Konsumsi
Tahap Pelaksanaan Pelatihan. Secara umum,
alur pokok yang ditempuh dalam pelaksanaan pelatihan adalah sebagai berikut di
bawah ini:
Pembukaan Pelatihan;
Pencairan Suasana.
Pembahasan Materi Pelatihan
Rangkuman, Evaluasi dan Tindak Lanjut
pelatihan
SUMBER:
http://binakarir.com/pelatihan-dan-pengembangan-sdm/
Mangkunegara, A A Anwar Prabu. 2006. Perencanaan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia . Bandung: PT. Refika Aditama